Tiba-tiba aku terduduk di sebuah kursi kayu, tingginya sekitar sedada-ku. Aku duduk kebingungan seperti seorang anak kecil ditengah keramaian pasar. Diatas kepalaku ternyata ada sebuah alat, alat tersebut berbentuk tempurung kepala. Ada banyak kabel di alat tersebut, ada yang berwarna merah ada juga yang berwarna kuning. Sepertinya alat tersebut bukan benda yang menyenangkan, tampak seperti sebuah alat untuk eksekusi terpidana mati. Kemudian seketika berubah .... Tiba-tiba aku berada di padang pasir, aku bisa melihat kakiku sendiri terendam oleh hangatnya pasir di gurun. Aku berjalan dan memandang sekitar, kulihat pasir-pasir tersebut bergunduk tinggi layaknya sebuah gunung. Tak ada warna lain selain warna kuning pasir dan biru-nya langit, tak ada manusia, hanya kekosongan dan kesepian. Dan kemudian aku berpindah lagi... Aku tidak lagi di padang pasir, aku seperti sedang diruang tamu duduk menyaksikan adikku yang sedang tertawa. Tertawa yang sering ia tunjukan saat ia masih kecil, tawa itu sungguh kurindukan. Sesaat aku teringat, aku ingat masa-masa dimana ia masih sangat lugu, masih sangat polos dan lucu. Aku merindukan masa itu, masa dimana aku bisa tertawa bahagia bersamanya..... Dan saat aku sedang mengingat hal tersebut, tiba-tiba keadaan kembali berubah. Aku terbaring disebuah pondok kayu, ada hamparan padang rumput yang luas didepanku, tapi anehnya ketika aku melihat kedua kakiku, aku malah sedang berdiri di atas pasir dan ada arus air yang menyapu pasir-pasir di kakiku. Aneh sekali.. Padahal ketika kupandang kedepan yang kulihat saat itu adalah padang rumput bukan lautan..... Kemudian.... Aku terbangun
Itulah mimpiku malam ini... Absurd sekali dan sangat surealis. Mimpi yang sangat indah dan sudah lama kurindukan mimpi seperti ini. Ya... Mimpi itu sebuah karya seni yang tak kita sadari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar