Rabu, 27 April 2022

Limbo


Tentang ketidakbermaknaan hidup dan kesia-siaan. Saat Panca Indera tak berfungsi sebagaimana mestinya. Eksistensi kembali dipertanyakan. Lantas, untuk apa, melakoni drama tanpa esensi cerita?

Raga hanya seonggok daging tanpa jiwa. Terjebak dalam goa yang bahkan tak bergema. Dimana, ujungnya yang menjanjikan cahaya? Karena setiap langkah bergerak tanpa dituntun sang mata. Tersesat tanpa arah

Disini, tak ada kata "sekitar". Kegelapan menutupi semuanya. Tidak ada gunung-gujung dengan bunga-bunga yang bermekaran indah beserta hamparan padang rumput luas yang seolah tak terbatas. Atau, sisiran ombak yang menyapu pasir-pasir pantai beserta hijaunya barisan pohon kelapa yang mendongak kearah senja. Tak ada pepohonan hijau dengan kicauan-kicauan burung yang megah. Tak ada bintang-bintang hinggap di langit malam dengan ratusan juta tahun masa lalunya. 

Tak ada suara, tak ada bisikan, tak ada bayangan dan tak ada lentera. 

Hanya ke- akuan yang diselimuti pekat hitam.

Aku dan kamu menuju ruang hampa. Tanpa udara.

(Diego Yofie Armando, Kosan Gelap, Lubuklinggau 1 April 2022)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar