Aku meragukan kemampuan kita sebagai manusia untuk mendeskripsikan sebuah jalan fikiran dan rasa. Bagaimana bisa, sebuah kerangka abstrak dalam otak bisa dijelaskan melalui kosakata manusia yang terbatas? Bagaimana bisa, keterbatasan kosa kata tersebut dapat merangkum dan menjengkal setiap sudut kerangka fikir yang rumit dan abstrak itu?
Miskonsepsi dan kesalahpahaman terjadi, karena kita sebagai manusia kesulitan untuk menerangkan sebuah jalan fikiran dan rasa kedalam sebuah rangkaian kalimat secara presisi. Belum lagi persoalan tentang Individu lain dalam memahami jalan fikiran orang lain dengan keterbatasan kosakata juga menjadi kendala dari sisi persepsi.
Bahasa dan Persepsi... Menjadi masalah utama kita dalam menjelaskan fikiran dan rasa. Jelaskan apa itu Manis kedalam bahasa secara presisi? Apakah manismu sama dengan manisku? Apakah kadar dari sebuah rasa manismu sama dengan kadar rasa manisku? Jelaskan kadar tersebut secara tepat, bisakah? Bisakah kosakata atau bahasa merangkum dan menjelaskannya? Atau bisakah persepsi kita tentang Manis menjadi sama?
Atau, kita tidak perlu bicara soal rasa. Sekarang jelaskan apa itu Merah? Jelaskan melalui bahasa dan kosakata, apa itu merah? Deskripsikan dengan kata. apakah merahmu sama dengan merahku? Seberapa merah. merahmu disebut merah? Dan seberapa merah, merahku bisa disebut merah? Bisakah bahasamu mendeskripsikan sebuah warna tanpa menunjuk warna tersebut? Bisakah kamu, menjelaskan warna kedalam bahasa? Kita hanya bisa melihat bahwa mawar itu merah? Tapi bukankah kita tidak tahu apa itu merah? Bagaimana cara mendeskripsikan merah tersebut?
Sekarang tentang sebuah Fikiran... Bagaimana bisa kamu menjelaskan tentang emosi, cara berfikir, dan segala kekalutan yang berkecamuk dikepala kepada orang lain? Dari mana kamu harus memulai? Apakah kata-kata yang keluar dari mulutmu akan tepat mendeskripsikan fikiranmu? Emosimu? Proses berfikirmu? Dan apakah orang lain akan memahami dengan caramu memahami jalan fikiranmu sendiri ? Apakah kata-katamu akan dapat membuat orang lain merangkum semua hal yang kau maksudkan dikepala?
Bukankah sebegitu sulitnya mendeskripsikan sebuah amarah, sampai sampai kita hanya bisa bersumpah serapah dan mengeluarkan kata-kata kotor. Kekalutan emosi dan amarah hanya bisa kita lontarkan melalui kata "anjing" misalnya. Karena, bahasa yang kita miliki terlalu sederhana untuk mendeskripsikan amarah dalam sebuah fikiran.
Dan pada akhirnya... Kita hanya bisa berpegang pada pepatah lama bahwa "diam itu emas"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar