Rabu, 27 April 2022

Limbo


Tentang ketidakbermaknaan hidup dan kesia-siaan. Saat Panca Indera tak berfungsi sebagaimana mestinya. Eksistensi kembali dipertanyakan. Lantas, untuk apa, melakoni drama tanpa esensi cerita?

Raga hanya seonggok daging tanpa jiwa. Terjebak dalam goa yang bahkan tak bergema. Dimana, ujungnya yang menjanjikan cahaya? Karena setiap langkah bergerak tanpa dituntun sang mata. Tersesat tanpa arah

Disini, tak ada kata "sekitar". Kegelapan menutupi semuanya. Tidak ada gunung-gujung dengan bunga-bunga yang bermekaran indah beserta hamparan padang rumput luas yang seolah tak terbatas. Atau, sisiran ombak yang menyapu pasir-pasir pantai beserta hijaunya barisan pohon kelapa yang mendongak kearah senja. Tak ada pepohonan hijau dengan kicauan-kicauan burung yang megah. Tak ada bintang-bintang hinggap di langit malam dengan ratusan juta tahun masa lalunya. 

Tak ada suara, tak ada bisikan, tak ada bayangan dan tak ada lentera. 

Hanya ke- akuan yang diselimuti pekat hitam.

Aku dan kamu menuju ruang hampa. Tanpa udara.

(Diego Yofie Armando, Kosan Gelap, Lubuklinggau 1 April 2022)

Kamis, 17 Maret 2022

JALAN FIKIRAN & RASA

 Aku meragukan kemampuan kita sebagai manusia untuk mendeskripsikan sebuah jalan fikiran dan rasa. Bagaimana bisa, sebuah kerangka abstrak dalam otak bisa dijelaskan melalui kosakata manusia yang terbatas? Bagaimana bisa, keterbatasan kosa kata tersebut dapat merangkum dan menjengkal setiap sudut kerangka fikir yang rumit dan abstrak itu?

Miskonsepsi dan kesalahpahaman terjadi, karena kita sebagai manusia kesulitan untuk menerangkan sebuah jalan fikiran dan rasa kedalam sebuah rangkaian kalimat secara presisi. Belum lagi persoalan tentang Individu lain dalam memahami jalan fikiran orang lain dengan keterbatasan kosakata juga menjadi kendala dari sisi persepsi. 

Bahasa dan Persepsi... Menjadi masalah utama kita dalam menjelaskan fikiran dan rasa. Jelaskan apa itu Manis kedalam bahasa secara presisi? Apakah manismu sama dengan manisku? Apakah kadar dari sebuah rasa manismu sama dengan kadar rasa manisku? Jelaskan kadar tersebut secara tepat, bisakah? Bisakah kosakata atau bahasa merangkum dan menjelaskannya? Atau bisakah persepsi kita tentang Manis menjadi sama?

Atau, kita tidak perlu bicara soal rasa. Sekarang jelaskan apa itu Merah? Jelaskan melalui bahasa dan kosakata, apa itu merah? Deskripsikan dengan kata. apakah merahmu sama dengan merahku? Seberapa merah. merahmu disebut merah? Dan seberapa merah, merahku bisa disebut merah? Bisakah bahasamu mendeskripsikan sebuah warna tanpa menunjuk warna tersebut? Bisakah kamu, menjelaskan warna kedalam bahasa? Kita hanya bisa melihat bahwa mawar itu merah? Tapi bukankah kita tidak tahu apa itu merah? Bagaimana cara mendeskripsikan merah tersebut?

Sekarang tentang sebuah Fikiran... Bagaimana bisa kamu menjelaskan tentang emosi, cara berfikir, dan segala kekalutan yang berkecamuk dikepala kepada orang lain? Dari mana kamu harus memulai? Apakah kata-kata yang keluar dari mulutmu akan tepat mendeskripsikan fikiranmu? Emosimu? Proses berfikirmu? Dan apakah orang lain akan memahami dengan caramu memahami jalan fikiranmu sendiri ? Apakah kata-katamu akan dapat membuat orang lain merangkum semua hal yang kau maksudkan dikepala? 

Bukankah sebegitu sulitnya mendeskripsikan sebuah amarah, sampai sampai kita hanya bisa bersumpah serapah dan mengeluarkan kata-kata kotor. Kekalutan emosi dan amarah hanya bisa kita lontarkan melalui kata "anjing" misalnya. Karena, bahasa yang kita miliki terlalu sederhana untuk mendeskripsikan amarah dalam sebuah fikiran. 

Dan pada akhirnya... Kita hanya bisa berpegang pada pepatah lama bahwa "diam itu emas"

Kamis, 10 Maret 2022

 

Tahukah anda bahwa ada sekitar 100 milyar bintang di galaksi Bima Sakti. Tiap bintang memiliki orbit planet masing masing. Dan kurang lebih ada 100 milyar Planet di Galaksi Bima Sakti kita ini. Dan tahukah anda ada berapa jumlah Galaksi di Alam Semesta, kurang lebih 200 Triliun Galaksi. So…. Fakta semacam ini mengerucutkan kita pada satu hal, Eksistensi Manusia. What’s the point of life? Sebenarnya apa tujuan hidup ? Mengapa kita berada disini ? Apa yang kita lakukan disini ?

Beberapa Tahun lalu saya mengalami krisis eksitensi. Pertanyaan-pertanyaan mengenai eksistensi manusia selalu menggerogoti isi kepala. Berbagai macam literature mulai dari literature keagamaan sampai dengan filsafat barat saya pelajar. Hanya untuk mencari satu hal. Apa itu Tujuan Hidup?

And you know what? The Point of life is NOTHING.

Tujuan hidup ya hidup !

That’s it !

Sounds like a joke isn’t it?

Yuppp.. Life is a joke !

It’s just a game… You are just playing a game… Don’t take life too seriously

You are the creator, the actor and you are the Universe

Seperti kata alan watts… “You are the universe experiencing himself”

Sabtu, 05 Maret 2022

"Breaking Bad" (Spoiler Alert) dan Candu

 Kadang kala dalam hidup ini kita mengambil sebuah keputusan besar. Terlepas dari benar salahnya keputusan tersebut, apa yang terjadi kemudian dapat mengubah hidup seseorang.

Kejenuhan, kekosongan, dan pencarian makna dari eksistensi manusia merupakan beberapa dari sekian banyak faktor yang membuat seseorang melakukan perubahan besar dalam hidup baik itu positif maupun negatif. Tapi, akan lebih baik, bukan sisi positif atau negatif dari suatu perbuatan yang sebaiknya diamati, melainkan bagaimana latar belakang dan proses dari seseorang dalam menjalani keputusan yang ia buat kemudian dapat membentuknya menjadi kepribadian yang berbeda. 

Breaking Bad atau yang bila kita artikan secara kasar dalam bahasa indonesia yakni "menjadi buruk" merupakan sebuah serial televisi yang menceritakan tentang bagaimana seorang guru Kimia dengan kehidupannya yang berada dalam "zona nyaman" bahkan terkesan penuh kejenuhan, menjadi seorang pembuat narkoba (methamphetamine) yang ditakuti dan disegani. Yang awalnya adalah seorang Mr.Chips, disukai banyak orang, terkesan polos kemudian berubah menjadi sosok bandar yang sangar, pembunuh dan tanpa belas kasih. 

Walter White, sosok utama dalam serial tersebut, bertranformasi layaknya cairan kimia yang berkontraksi dari sosok "protagonis" menjadi "antagonis. Dari sosok yang mengundang simpati menjadi sosok yang antipati. Dari dicintai menjadi dibenci. Walter White, bukan hanya membuat kehidupannya sendiri menjadi "penuh kejutan", tapi juga kehidupan orang-orang disekitarnya. 

Walter sadar, apa yang sedang ia jalani bukanlah hal yang secara moral dapat dibenarkan. Tapi, ia menikmati setiap proses yang ia lewati dengan letupan-letupan peristiwa tak terduga yang ia hadapi. Sisi kontras dari kehidupan zona nyaman yang ia jalani selama ini, berubah menjadi hidup yang penuh dengan belokan-belokan tak terduga.

Persis seperti apa yang Walter alami, aku juga sedang menjalani fase yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Membuat keputusan yang secara moral salah, kemudian menjalaninya. Berperan sebagai sosok antagonis yang dibenci. Membuat orang-orang sekitar berkata "tak menyangka" kalau aku bisa seperti ini. Aku tidak akan membela diri dengan ribuan alasan untuk membenarkan perbuatanku. Apa yang kulakukan mutlak sebuah kesalahan. Aku dan Walter sama-sama terlibat candu, dalam bentuk yang berbeda. Candu yang kami ketuahui hanya akan merusak diri sendiri namun sulit untuk bisa melepas ke-adiktifannya. 

Candu... yang pada akhirnya membuatmu mencintai hidup


"I did it for me, I like it, I was good at it... And I was really, I was ALIVE" (Walter White)

Kamis, 03 Maret 2022

 6 Tahun kemudian...


Blog ini kubuka lagi, ada banyak cerita yang ingin diungkapkan. Tentang perjalanan hidup yang kadang tak bisa kita sangka-sangka. Walaupun aku sendiri bingung harus mulai bercerita darimana. Tapi, dari 6 Tahun sejak terakhir kali menulis, satu tahun terakhir (2021/2022) adalah tahun yang paling merubah hidupku. Semua berubah total. Ada banyak keputusan kubuat yang berakhir menjadi penyesalan. Ada kebahagiaan dan ada kesedihan. Proses pendewasaan diri, pencarian jati diri dan kebahagiaan yang aku alami bergerak ke arah-arah yang tak terduga. 

Paradigma ku dalam memandang hidup juga sudah banyak berubah. Aku.. seperti hilang arah satu tahun terakhir ini. Hanya karena satu hal... Keteledoranku sendiri. 

Aku melakukan banyak kesalah dalam hidup. Dan dari kesalahan dan keteledoran aku belajar. Kadang, aku merindukan kehidupanku yang dulu. Berkutat dalam ranah filosofis tentang pencarian jati diri dan kebahagiaan. Sekarang semua sirna, semua berubah. Aku melupakan segalanya....

Saat ini... Aku hanya ingin memperbaiki diri. Kesalahan masa lalu adalah suatu hal yang tidak bisa diubah. Semua sudah terjadi. Membuat orang-orang untuk kembali mempercayaiku juga hanya akan menjadi hal sia-sia. Tampaknya, aku tidak perlu meyakinkan orang-orang untuk mempercayaiku. Yang harus kulakukan adalah fokus pada diri sendiri, melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri tanpa berniat untuk membuktikan diri. Biarkan orang menilai, karena itu hak mereka. Aku hanya cukup melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan dan berusaha memperbaiki diri. 


Lubuklinggau 03 Maret 2022

Minggu, 10 Januari 2016

?

Ah.... Entah angin apa yang membawa saya kembali ke blog ini di detik ini. Entah bisikan siapa pada pukul 21:34 10 Januari 2016 ini saya jadi tergerak menulis. Saya bahkan tak tahu apa yang harus saya tulis.. Tapi bukankah sekarang saya sedang menulis eh..

Apa kabar kamu Diego? Yofie? atau siapalah namamu itu yang sok kebarat-baratan? Sudah sejauh mana perjalanan hidupmu kini? Bahagiakah? ah katamau bahagia itu hanya soal persepsi soal sudut pandang bla bla bla filosofis yang sering kau cuap-cuapkan. Aku yakin kau tetap seperti dulu, masih menjadi pencari jati diri... Kau sendiri bilang bahwa pencarian jati diri tak akan pernah berakhir sampai kau mati... Jadi apakah kau sudah mulai menemukan apa yang kau cari? atau masih terus saja terombang-ambing di tengah laut sambil memegang kitab 'Sabda Zaratushtra'? Sudahlah menyerahlah.. Terima saja seperti mereka yang berdamai dengan realita. Kau terjebak dalam buku dan film-film filosofis yang sering kau baca... Kau hindari dogma tapi ciptakan dogma baru.. Ha Ha Ha

Omong-omong soal film.... Bagaimana selera filmmu kini? masih suka menyukai drama lambat bertema berat? Ah... kau emang selalu seperti itu. Selalu ingin sok berbobot, sok ngerti, sok intelek... Kau suka Birdman tapi benci Iron Man biar dibilang intelek bukan? Ha Ha Ha

Aku suka cara pandang hidupmu.. Tapi kau salah tempat kawan! Kau bukan hidup di negara dengan budaya bebas dengan pola interaksi dan pemikiran bebas. Kau hidup di tempat yang salah. Eh tapi bukankah hidup memang sebuah kesalahan? kau pasti setuju dengan kata-kataku yang terakhir tadi bukan.... Dasar orang aneh

Harus berapa kali kukatakan bahwa kau harus berdamai dengan realita. Kau tidak bisa terus-terusan hidup dengan memegang idealisme semacam itu. Tapi menasehatimu itu susah. Kau sudah terlanjur kosong. Kau tak punya lagi nilai untuk dipercaya. Kau menolak harapan dan kau menolak realitas. Hidupmu terlalu kaku kawan... Terlalu kaku

pfffffffffff....capek cuap-cuap soal filosofis

Aku hanya ingin berpesan untukmu yang menganggap bahwa hidup adalah sebuah kesalahan... "Berdamailah dengan realita"

Sabtu, 13 Juli 2013

Tidur

Tiba-tiba aku terduduk di sebuah kursi kayu, tingginya sekitar sedada-ku. Aku duduk kebingungan seperti seorang anak kecil ditengah keramaian pasar. Diatas kepalaku ternyata ada sebuah alat, alat tersebut berbentuk tempurung kepala. Ada banyak kabel di alat tersebut, ada yang berwarna merah ada juga yang berwarna kuning. Sepertinya alat tersebut bukan benda yang menyenangkan, tampak seperti sebuah alat untuk eksekusi terpidana mati. Kemudian seketika berubah .... Tiba-tiba aku berada di padang pasir, aku bisa melihat kakiku sendiri terendam oleh hangatnya pasir di gurun. Aku berjalan dan memandang sekitar, kulihat pasir-pasir tersebut bergunduk tinggi layaknya sebuah gunung. Tak ada warna lain selain warna kuning pasir dan biru-nya langit, tak ada manusia, hanya kekosongan dan kesepian. Dan kemudian aku berpindah lagi... Aku tidak lagi di padang pasir, aku seperti sedang diruang tamu duduk menyaksikan adikku yang sedang tertawa. Tertawa yang sering ia tunjukan saat ia masih kecil, tawa itu sungguh kurindukan. Sesaat aku teringat, aku ingat masa-masa dimana ia masih sangat lugu, masih sangat polos dan lucu. Aku merindukan masa itu, masa dimana aku bisa tertawa bahagia bersamanya..... Dan saat aku sedang mengingat hal tersebut, tiba-tiba keadaan kembali berubah. Aku terbaring disebuah pondok kayu, ada hamparan padang rumput yang luas didepanku, tapi anehnya ketika aku melihat kedua kakiku, aku malah sedang berdiri di atas pasir dan ada arus air yang menyapu pasir-pasir di kakiku. Aneh sekali.. Padahal ketika kupandang kedepan yang kulihat saat itu adalah padang rumput bukan lautan..... Kemudian.... Aku terbangun

Itulah mimpiku malam ini... Absurd sekali dan sangat surealis. Mimpi yang sangat indah dan sudah lama kurindukan mimpi seperti ini. Ya... Mimpi itu sebuah karya seni yang tak kita sadari